Cerita ini dibuat khusus bagi para pemelajar BIPA dari berbagai negara, untuk mengetahui cerita rakyat asli dari Indonesia.
Hwaiting!

Alkisah pada jaman dahulu, di pantai timur Pulau Jawa, terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Menak Prakosa. Ia memiliki seorang putra bernama Raden Banterang yang sangat tampan, gagah dan berwibawa.
Sayangnya, Raden Banterang memiliki sifat yang mudah marah. Ketika emosinya sedang tinggi, ia kurang bisa mengendalikan diri. Jika perintahnya tidak dilaksanakan dengan baik, tidak segan-segan ia akan memberikan hukuman berat.
Raden Banterang memiliki seorang istri bernama Surati yang merupakan anak raja dari Kerajaan Kalungkung. Dulu kerajaan ayah Surati berhasil ditakhlukkan oleh ayah dari Raden Banterang, yakni Prabu Menak Prakosa.
"Kakak...," teriak Surati memeluk laki-laki itu.
"Surati, adikku," jawab kakaknya.
Sore hari, ketika Surati sedang berjalan-jalan di luar istana, ia bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat dikenalnya. Laki-laki itu berpakaian compang-camping dan tubuhnya kotor tidak terurus.
"Aku tidak percaya kakak masih hidup. Aku pikir keluarga kita sudah tidak ada lagi yang tersisa," kata Surati kembali dengan nada sedih.
"Syukurlah Dewata masih melindungiku, Dik. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau menikah dengan orang yang telah membunuh ayah kita. Bagaimana jika kau membantuku untuk membalas dendam kematian ayah kita. Kau harus membunuh Raden Banterang, suamimu," seru kakak Surati.
"Maaf kak, aku tidak bisa. Raden Banterang, suamiku, sangat baik kepadaku. Dialah yang telah menolongku selama ini. Aku sangat mencintainya," jawab Surati.
Mendengar hal itu, kakak Surati pergi meninggalkan adiknya. Meskipun kecewa dengan jawaban sang adik, tapi ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk memaksa adiknya memenuhi permintaannya.
"Maaf Raden, jika hamba yang hina ini mengganggu kesenangan Raden. Hamba hanya ingin mengingatkan agar berhati-hati," saran pengemis itu.
"Apa maksudmu?" tanya Raden Banterang.
Suatu hari, Raden Banterang pergi ke hutan untuk berburu. Ketika sedang mengejar kijang buruannya, tiba-tiba ia dihadang seorang pengemis yang berpakaian compang-camping.
- Full access to our public library
- Save favorite books
- Interact with authors

- < BEGINNING
- END >
-
DOWNLOAD
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
-
SAVE
-
BUY THIS BOOK
(from $2.99+) -
BUY THIS BOOK
(from $2.99+) - DOWNLOAD
- LIKE (1)
- COMMENT ()
- SHARE
- SAVE
- Report
-
BUY
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
- Excessive Violence
- Harassment
- Offensive Pictures
- Spelling & Grammar Errors
- Unfinished
- Other Problem

COMMENTS
Click 'X' to report any negative comments. Thanks!