UNTUK ANAK-ANAK INDONESIA This book was created and published on StoryJumper™
©2015 StoryJumper, Inc. All rights reserved.
Publish your own children's book:
www.storyjumper.com














Pada zaman dahulu kala, ada sebuah hutan yang
cukup asri. Di dalam hutan tersebut tumbuh berbagai
pohon dengan buah-buah yang manis dan ranum,
sehingga banyak binatang yang senang tinggal di
hutan tersebut.
Pada suatu hari, hutan tersebut kedatangan seekor
penghuni baru. Dia adalah si Lili ulat. Tapi para
hewan dan pohon sangat membencinya, karena dia
sangat rakus dalam memakan daun-daun dan tak
memiliki manfa’at apapun, sehingga banyak pohon
yang tak mau dia tinggali.









“Wahai pohon apel, bolehkah aku ikut tinggal di
dahan u?”. Tanya Lili ulat pada pohon apel.
“Kau tak boleh tinggal di sini. Karena makan mu
banyak. Jika kau terlalu banyak memakan daun ku,
maka aku tak akan bisa lagi berbuah. Carilah pohon
lainya..”. kata pohon apel dengan ketusnya.
“Tapi aku janji, suatu saat budi mu pasti akan aku
balas. Izinkan aku tinggal di sini, karena aku tak
lagi memiliki rumah lain”. Kata Lili ulat memelas.









“Pokoknya tidak boleh..!! karena para hewan yang
ikut tinggal di pohon ku pasti juga tidak setuju.
Karena jika buah ku berkurang, mereka juga akan
kekurangan makanan. Lagi pula apa yang bisa kau
lakukan? Mahluk jelek dan lemah seperti mu tak bisa
melakukan apa-apa selain makan dan makan saja.
Sana pergi cari pohon yang lain”. Kata pohon apel
dengan membentak.












Ahirnya dengan sedih Lili ulat pun pergi mencari
pohon lain yang mau dia tinggali. Tapi jawaban tiap
pohon yang di temuinya sama, tak ada yang mau
menerimanya. Ahirnya.. dia keluar dari hutan menuju
ke pinggir hutan. Dia menangis dengan sedih
meratapi nasib yang di alaminya. Ternyata tanpa dia
sadari, ada pohon bunga matahari yang dari tadi
memerhatikan dia.












“Tak usah kau menangis lagi kawan.. kau bisa tinggal
di sini. Kau bisa memilih tinggal di pohon ku, atau
pohon bunga manapun yang kau mau. Mereka tak
akan menolak, karena mereka adalah rakyat ku”.
Kata bunga matahari.
Mendengar jawaban dari bunga matahari, Lili ulat
menjadi sangat senang.
“Benarkah itu kawan?”. Tanya Lili ulat tak percaya.
“Tentu saja benar. Lagi pula tak ada hewan yang
tinggal di pohon kami, karena tak memiliki buah.
Jika kau mau tinggal di sini, ku akan merasa senang
karena memiliki teman baru”. Jawab bunga matahari.













Dan mulai saat itu, Lili ulat dan bunga matahari
menjadi sahabat baik. Itu adalah hari-hari terindah
yang di lalui dua sahabat tersebut. Hingga pada
suatu hari..
“Bunga matahari sahabat ku.. ini adalah hari terahir
aku bisa bercanda dengan mu.. “. Kata Lili ulat.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, bunga
matahari terkejut.
“Memangnya engkau hendak ke mana kawan? Apakah
kau mau pergi mennggal kan aku?” Tanya bunga
matahari.













“Tidak sahabat ku. Aku hanya mau
berpamitan.. mulai besok aku akan
berpuasa dan tidur panjang. Jawab Lili
ulat.
“Aku sama sekali tak mengerti apa
maksud ucapan mu..”. kata bunga
matahari bingung.
“Kau akan mengerti nanti pada saatnya
kawan.. untuk sementara, aku akan
meminjam dahan mu untuk membangun
rumah ku dalam berpuasa.. ku mohon
kau mengizinkanya”. Kata lili ulat.
“Apapun yang terbaik untuk mu kawan,
aku pasti mendukung mu..”. jawab bunga
matahari.












You've previewed 16 of 25 pages.
To read more:
Click Sign Up (Free)- Full access to our public library
- Save favorite books
- Interact with authors

- < BEGINNING
- END >
-
DOWNLOAD
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
-
SAVE
-
BUY THIS BOOK
(from $4.99+) -
BUY THIS BOOK
(from $4.99+) - DOWNLOAD
- LIKE (1)
- COMMENT ()
- SHARE
- SAVE
- Report
-
BUY
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
- Excessive Violence
- Harassment
- Offensive Pictures
- Spelling & Grammar Errors
- Unfinished
- Other Problem

COMMENTS
Click 'X' to report any negative comments. Thanks!