بسم الله الرحمن الرحيماللهم صلي على سيدين محمد
Cerita ini dipersembahkan untuk anak bangsa Indonesia.
SEMOGA BERMANFAAT
This book was created and published on StoryJumper™
©2015 StoryJumper, Inc. All rights reserved.
Publish your own children's book:
www.storyjumper.com



































Pada zaman dahulu hiduplah seorang
petani sederhana bersama istrinya
yang cantik. Petani itu selalu bekerja
keras, tetapi istrinya hanya bersolek
dan tidak mempedulikan rumah
tangganya. Mereka tinggal di rumah
yang sangat sederhana dan hidup
dari hasil pertanian sebagaimana
layaknya keluarga petani













“Bagaimana bisa kelihatan cantikkalau pakaianku buruk,” kata sang istri.

Sang istri yang cantik itu tidak puas
dengan keadaan mereka. Dia merasa,
sudah selayaknya jika suaminya
berpenghasilan lebih besar supaya dia
bisa merawat kecantikannya. Untuk
memenuhi tuntutan istrinya, petani itu
bekerja lebih keras. Namun, sekeras
apa pun kerja si petani, dia tak mampu
memenuhi tuntutan istrinya. Selain
minta dibelikan obat-obatan yang dapat
menjaga kecantikanya, istrinya juga
suka minta dibelikan pakaian yang
bagus-bagus --yang tentunya sangat
mahal.

Karena hanya sibuk mengurusi
penampilan, istri yang cantik itu tidak
memperhatikan kesehatannya. Dia
jatuh sakit. Sakitnya makin parah
hingga akhirnya meninggal dunia.
Suaminya begitu sedih. Sepanjang hari
dia menangisi istrinya yang kini
terbujur tanpa daya. Karena tak ingin
kehilangan, petani itu tak mau
mengubur tubuh istrinya yang amat
dicintainya itu. Dia ingin
menghidupkan kembali istrinya.





































Esok harinya suami yang malang itu menjual
semua miliknya dan membeli sebuah
sampan. Dengan sampan itu dia membawa
jasad istrinya menyusuri sungai menuju
tempat yang diyakini sebagai persemayaman
para dewa. Dewa tentu mau menghidupkan
kembali istriku, begitu pikirnya.
Meskipun tak tahu persis tempat
persemayaman para dewa, petani itu terus
mengayuh sampannya. Dia mengayuh dan
mengayuh tak kenal lelah. Suatu hari, kabut
tebal menghalangi pandangannya sehingga
sampannya tersangkut. Ketika kabut
menguap, di hadapannya berdiri sebuah
gunung yang amat tinggi, yang puncaknya
menembus awan. Di sinilah tempat tinggal
para dewa, pikir Petani. Dia lalu mendaki
gunung itu sambil membawa jasad istrinya.
You've previewed 9 of 15 pages.
To read more:
Click Sign Up (Free)- Full access to our public library
- Save favorite books
- Interact with authors

- < BEGINNING
- END >
-
DOWNLOAD
-
LIKE(2)
-
COMMENT()
-
SHARE
-
SAVE
-
BUY THIS BOOK
(from $2.99+) -
BUY THIS BOOK
(from $2.99+) - DOWNLOAD
- LIKE (2)
- COMMENT ()
- SHARE
- SAVE
- Report
-
BUY
-
LIKE(2)
-
COMMENT()
-
SHARE
- Excessive Violence
- Harassment
- Offensive Pictures
- Spelling & Grammar Errors
- Unfinished
- Other Problem

COMMENTS
Click 'X' to report any negative comments. Thanks!